AD-ART GKSI

ANGGARAN DASAR

GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA

(AD - GKSI)

MUKADIMAH

Oleh anugerah dan kemurahan Tuhan Yesus, maka pada tanggal 21 November 1988, lahirlah di bumi persada yang kita cintai, Indonesia, Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI).

Sesungguhnya Tuhan Yesus Kristus sendirilah yang mendirikan Gereja Kristen Setia Indonesia (Matius 16:18) dan Dia jugalah yang akan menumbuhkan, mengembangkan, dan meneruskan sampai kegenapannya.

Kehadiran Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) merupakan sebagian dari gereja-gereja yang esa di Indonesia yang secara bersama-sama terpanggil untuk menunaikan tugas dan pengutusan-Nya yaitu mengemban misi Allah di tengah-tengah dunia dalam konteks Indonesia pada masa kini.

Atas dasar inilah, maka Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) akan berdiri bersama-sama dengan gereja-gereja di Indonesia lainnya, terpanggil untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia sebagai satu wilayah kesaksian dan pelayanan.

Dengan mengucap syukur kepada Roh Kudus yang senantiasa memberi pertolongan dan bimbingan-Nya, maka kami wakil-wakil Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) membentuk sebuah organisasi dengan Anggaran Dasar sebagai berikut:

BAB I : NAMA, TEMPAT KEDUDUKAN, DAN WAKTU

Pasal 1: N a m a

Organisasi ini bernama: Gereja Kristen Setia Indonesia disingkat GKSI.

Pasal 2 : Tempat Kedudukan

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) berkedudukan di Jakarta. Jakarta ditetapkan sebagai tempat pusat Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI).

Pasal 3 : W a k t u

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.

BAB II : BENTUK PEMERINTAHAN DAN SIFAT

Pasal 4 : Bentuk pemerintahan

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) berbentuk pemerintahan “Presbiterial-Sinodal.”

Pasal 5 : S i f a t

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) bersifat Injili dan Reformasi

BAB III : PENGAKUAN IMAN

Pasal 6

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) menyatakan pengakuan Iman atas:

  1. Alkitab adalah firman Allah yang diilhamkan tanpa salah dan merupakan otoritas tertinggi dalam iman dan seluruh segi kehidupan manusia.
  2. Allah adalah esa yang keberadaan-Nya dari kekal sampai kekal dalam tiga oknum yakni: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.
  3. Yesus Kristus adalah Allah yang telah menjadi manusia, lahir dari anak dara Maria, suci, sempurna tanpa dosa. Ia mati di salib sebagai Penebus, dikubur, bangkit dari antara orang mati, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan akan datang kembali dari sana dalam kuasa dan kemuliaan.
  4. Roh Kudus memeteraikan orang-orang ketika percaya dan menjadikannya anak-anak Allah serta memimpin mereka untuk hidup suci dan mampu bersaksi bagi Yesus Kristus.
  5. Keselamatan manusia diperoleh hanya oleh anugerah melalui iman pada penebusan darah Yesus melalui pekerjaan Roh Kudus.
  6. Persekutuan orang-orang beriman sebagai tubuh Kristus, merupakan perwujudan Gereja yang Kudus dan Am.
  7. Kebangkitan berlaku bagi semua orang mati, bagi yang percaya mendapat hidup kekal bagi yang tidak percaya kebinasaan yang kekal.

Pasal 7

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) menerima dan mengakui Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, dan Pengakuan Iman Athanasius.

BAB IV : ASAS, TUJUAN, DAN USAHA

Pasal 8 : A s a s

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) berasaskan Pancasila dan UUD 1945, sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pasal 9 : T u j u a n

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) bertujuan untuk:

  1. Melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus sebagaimana tercantum dalam Matius 28: 19-20.
  2. Mengerjakan misi Allah dengan mewujudkan persekutuan dan melaksanakan tugas pengutusan yaitu kesaksian, pemberitaan Injil, dan pelayanan dalam arti seluas-luasnya.

Pasal 10 : U s a h a

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) dalam mencapai tujuannya akan berusaha:

  1. Menyelenggarakan pembinaan bagi warga jemaat agar bertumbuh dalam iman sehingga mampu melayani Tuhan.
  2. Menyelenggarakan pembinaan bagi warga jemaat, agar dalam semangat kesatuan dan persatuan secara bersama-sama mendukung tercapainya Gereja Tuhan yang Esa di Indonesia dan di seluruh muka bumi.
  3. Penyelenggaraan pembinaan ini dilaksanakan melalui:Menyelenggarakan pendidikan rohani dan umum serta kegiatan-kegiatan pelayanan yang sesuai dengan firman Allah.
    1. Kebaktian
    2. Pemberitaan Firman
    3. Sakramen
    4. Katekisasi
    5. Penggembalaan
    6. Perlawatan Gereja
    7. Kerjasama Oikumenis
    8. Pembinaan-pembinaan lainnya

BAB V : KEANGGOTAAN

Pasal 11

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) menetapkan bahwa yang menjadi anggota adalah:

  1. Anggota yang diserahkan / baptisan
  2. Anggota sidi
  3. Anggota simpatisan/khusus

Pasal 12

Anggota jemaat yang pindah dari gereja lain dengan surat Atestasi atau dengan surat pernyataan atau dengan mengisi formulir pendaftaran.

Pasal 13

Anggota jemaat wajib menjalin persatuan dan kesatuan antar pribadi, antar jemaat dan sesamanya.

BAB VI : JABATAN GEREJAWI

Pasal 14 : Pejabat Gereja

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) mengenal jabatan gerejawi sebagai berikut:

  1. Pendeta
  2. Guru Injil
  3. Penginjil
  4. Penatua

Pasal 15 : Tugas Pejabat Gerejawi

Fungsi pejabat gerejawi yaitu memelihara, menjaga, menolong anggota jemaat agar sehat dalam pengajaran, bertumbuh dalam kasih dan bersemangat dalam pelayanan.

BAB VII : ORGANISASI

Pasal 16 : Pimpinan Gerejawi

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) mengenal pimpinan organisasi sebagai berikut:

  1. Dalam wujud lokal: GKSI dipimpin Majelis Jemaat.
  2. Dalam wujud sektor: GKSI dipimpin Pengurus Sektor
  3. Dalam wujud wilayah: GKSI dipimpin Badan pengurus Wilayah disingkat BPW.
  4. Dalam wujud Provinsi: GKSI dipimpin oleh Badan Pengurus Provinsi disingkat BPP.
  5. Dalam wujud Sinode: GKSI dipimpin oleh Badan Pengurus Sinode disingkat BPS.

Pasal 17 : Tugas Pimpinan Gerejawi

  1. Majelis Jemaat bertugas memimpin dan mengkoordinir pelayanan jemaatnya
  2. Pengurus Sektor bertugas memimpin dan mengkoordinir pelayanan jemaat dalam sektornya.
  3. Badan Pengurus Wilayah (BPW) mengkoordinir Pengurus Sektor dan jemaat dalam wilayahnya.
  4. Badan Pengurus Sinode (BPS) memimpin dan mengatur seluruh jemaat secara nasional termasuk Pengurus Sektor, BPW dan lembaga yang didirikan Sinode.

Pasal 18 : Persidangan Gerejawi

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) mengenal beberapa persidangan Gerejawi:

  1. Persidangan Majelis jemaat, dihadiri oleh majelis jemaat setempat.
  2. Persidangan Pengurus Sektor, dihadiri oleh Majelis Jemaat, Hamba Tuhan dan Pengurus Sektor setempat.
  3. Persidangan Badan Pengurus Wilayah (BPW), dihadiri oleh utusan-utusan majelis jemaat dan Pengurus Sektor dalam wilayah tersebut.
  4. Persidangan BPS, dihadiri oleh Badan Pengurus Sinode Harian.
  5. Persidangan Sinode Am GKSI dihadiri oleh BPS, BPW, Pengurus Sektor, para utusan majelis setempat. Persidangan Sinode Am dilaksanakan satu kali dalam 5 (lima) tahun.

BAB VIII : HAK, KEWAJIBAN DAN DISIPLIN

Pasal 19 : H a k

Setiap anggota GKSI berhak:

  1. Menerima pelayanan yang layak secara rohani dan jasmani
  2. Menyatakan pendapat
  3. Memilih dan dipilih menjadi anggota majelis atau tugas pelayanan khusus.

Pasal 20 : Kewajiban

Setiap anggota GKSI, berkewajiban:

  1. Melaksanakan Tri Panggilan Gereja (Bersaksi, Bersekutu, Melayani).
  2. Memberi persembahan persepuluhan dan persembahan sukarela secara teratur demi kelancaran pekerjaan Tuhan.
  3. Menaati dan melaksanakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan Pokok Pedoman Iman dan Persekutuan GKSI serta Peraturan-Peraturan Pokok GKSI.
  4. Mendukung sepenuhnya program pelayanan GKSI untuk keluasan Kerajaan Allah di dunia.

Pasal 21 : Disiplin

Setiap anggota jemaat yang melanggar firman Tuhan, dan peraturan lainnya dalam lingkungan GKSI dikenakan disiplin gereja.

BAB IX : HARTA MILIK

Pasal 22

Harta milik GKSI adalah seluruh harta bergerak maupun tidak bergerak yang dimiliki oleh Jemaat, Pra Sektor, Sektor, Pra BPW, BPW, BPP, dan Sinode:

  1. Uang persembahan dan persepuluhan jemaat.
  2. Surat-surat berharga.
  3. Inventaris yang bergerak dan yang tidak bergerak.
  4. Hibahan dari orang-orang tertentu.
  5. Hasil usaha yang tidak bertentangan dengan Firman Allah.

BAB X : PERUBAHAN DAN PELAKSANAAN

Pasal 23 : Perubahan Anggaran Dasar

Perubahan Anggaran Dasar GKSI ini hanya dimungkinkan melalui persetujuan dari Sidang Sinode Am yang disetujui oleh 2/3 dari peserta sidang.

Pasal 24 : Pelaksanaan Anggaran Dasar

Pelaksanaan Anggaran Dasar GKSI ini, akan diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) GKSI

Pasal 25 : Penutup

Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar (AD) GKSI ini akan disempurnakan dan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) GKSI.

-----------------------------------------------------------------------

 

 

ANGGARAN RUMAH TANGGA

GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA

(ART GKSI)

MUKADIMAH

Sesungguhnya orang-orang percaya di semua tempat dan dari segala zaman, hidup dalam penghayatan adanya suatu Gereja yang Esa, Kudus, Am dan Rasuli seperti keesaan antara Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Yoh. 1; Ef. 4: 1-6; I Kor. 12: 27; Rom. 12: 4-5).

Sesungguhnya bahwa orang-orang percaya dalam satu wilayah dan tempat hidup dalam persekutuan dengan menghimpunkan diri, secara bersama dalam satu wadah dengan tujuan dan maksud agar melalui persekutuan itu memuliakan Tuhan dan menjadi kesaksian kepada dunia, agar dunia tahu dan percaya bahwa Yesuslah Tuhan dan Anak Allah yang kudus.

Atas dasar inilah, kami Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) dalam kebersamaan dengan Gereja-gereja di Indonesia lainnya, terpanggil dalam menunaikan tugas pengutusannya yaitu mengemban Amanat dan Misi Tuhan dalam arti yang seluas-luasnya di tengah konteks Indonesia.

Dengan bimbingan dan pertolongan Roh Kudus, kami wakil-wakil Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) membuat dan membentuk Anggaran Rumah Tangga sebagai berikut:

BAB I: NAMA, TEMPAT KEDUDUKAN, WUJUD, DAN WAKTU

Pasal 1: Nama

  1. Organisasi ini bernama Gereja Kristen Setia Indonesia disingkat GKSI.
  2. Dalam wujud lokal bernama Gereja Kristen Setia Indonesia Jemaat ……......... (nama Jemaat disesuaikan dengan nama jalan/kota, nama wilayah atau nama tempat yang umum dipakai oleh masyarakat atau nama yang disetujui secara bersama-sama oleh jemaat setempat)
  3. Dalam satu wilayah tidak diperkenankan memakai nama jemaat yang sama.

Pasal 2 : Tempat Kedudukan

  1. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) berkedudukan di Jakarta dan ditetapkan sebagai tempat pusat Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI).
  2. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) dalam pertumbuhan dan perkembangan-nya berada di seluruh tempat di setiap wilayah sebagai perwujudan jemaat-jemaat setempat dengan melaksanakan tugas pengutusannya.

Pasal 3 : W a k t u

  1. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan.
  2. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) secara bersama-sama dengan gereja-gereja Kristen lainnya, berdiri dan bersaksi selama waktu yang tidak ditentukan.

BAB II: BENTUK PEMERINTAHAN DAN SIFAT

Pasal 4 : Bentuk Pemerintahan

  1. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) berbentuk pemerintahan “Presbiterial Sinodal.”
  2. Wewenang tertinggi dalam GKSI terletak pada Sidang Sinode Am.
  3. Persidangan Sinode mewujudkan wewenangnya melalui keputusan-keputusan.
  4. Untuk melaksanakan keputusan-keputusan tersebut, Persidangan Sinode memberikan mandat kepada BPS terpilih.

Pasal 5 : S i f a t

  1. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) bersifat Injili dan Reformasi.
  2. Dengan demikian asas pengajaran dan pengakuan imannya didasarkan atas pengajaran Injili Reformasi dan ajaran-ajaran yang diterima oleh gereja sepanjang sejarah.

BAB III : PENGAKUAN IMAN DAN ASAS PENGAJARAN

Pasal 6 : Pengakuan Iman

  1. Kami percaya kepada Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi (Mrk. 12: 29; Mat. 28: 19; Yoh. 1: 19; Kis. 5: 3-4; 2 Kor. 3: 13-14; Ibr. 1: 1-3; Why. 1: 4-6). Yang dari kekal sampai kekal berada dalam tiga oknum, yang sama-sama kekal-Nya, sama-sama sifat hakiki-Nya, sama-sama kekuasaan-Nya, dan sama-sama kemuliaan-Nya (Ul. 6: 4; Mat. 28: 19; 2 Kor. 13: 15; Gal. 4: 4-6).
  2. Kami percaya kepada Yesus Kristus Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria, yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam Kerajaan Maut. Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa Yang Mahakuasa (Yoh. 1: 1,2,14; Luk. 1: 35; Yoh. 2: 1-2) dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Kedatangan-Nya penuh kemuliaan dan kekuasaan.
  3. Kami percaya kepada Roh Kudus, selalu hadir dari kekal sampai kekal, tetap mengambil tempat secara khusus di dunia pada hari Pentakosta sesuai dengan janji Allah, diam dalam hati setiap orang percaya, mempersatukan semua orang percaya dalam satu tubuh, sehingga Dia menjadi sumber kekuatan dan kuasa bagi kami (Ef. 2: 22; Yoh. 16: 17; Yoh. 16: 7-15; 1 Kor. 6: 19).
  4. Kami percaya adanya Gereja yang Kudus dan Am, persekutuan orang kudus yakni persekutuan orang-orang percaya yang terpanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, supaya memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia (Yoh. 17: 20-23; 1 Pet. 1: 9; Mat. 16: 16-18; Kis. 2: 42-47; Rom. 12: 5; 1 Kor. 12: 12-27; Ef. 1: 10; 4: 3-10; Kol. 3: 14-15).
  5. Kami percaya pengampunan dosa dari Allah sebagai janji anugerah bagi kami, karena iman kepada Yesus Kristus yang telah melaksanakan penebusan kami melalui kematian-Nya dan pembenaran kami diyakinkan dengan kebangkitan-Nya secara riil (Rom. 3: 24-34; 1 Pet. 2: 24; Ef. 1: 7; 1 Pet. 1:3-5).
  6. Kami percaya kebangkitan orang mati, dan pembebasan dari hukum yang kekal bagi kami dan kami beroleh anugerah kehidupan yang kekal (Mat. 25: 46; Yoh. 3: 16; Why. 20: 6, 13).
  7. Kami percaya akan hidup yang kekal bagi orang percaya dan umat tebusan-Nya, dan inilah harapan bagi kami semua ( 1 Tes. 1: 10; 1 Tes. 4: 13-17; Yoh. 14: 1-3; Mat. 24: 27, 30, 44).

Pasal 7

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) menerima dan mengakui “Pengakuan Iman Rasuli”, “Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel”, dan “Pengakuan Iman Athanasius.”

Pasal 8

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) menerima dan mengakui Konvensi Reformasi yang dikenal sebagai: Sola Fide, Sola Scriptura, dan Sola Gratia.

 

Pasal 9 : Asas Pengajaran

  1. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) menerima Pedoman Iman dan Persekutuan GKSI yang diterbitkan oleh Sinode GKSI.
  2. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) akan mengajarkan kebenaran firman Tuhan (Alkitab).
  3. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) terbuka terhadap bentuk pengajaran yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) GKSI.

BAB IV : ASAS, TUJUAN, DAN USAHA

Pasal 10 : A s a s

  1. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) berasaskan Pancasila dan UUD 1945 sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  2. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) mendukung pemerintah Republik Indonesia dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya sesuai Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia.

Pasal 11 : T u j u a n

  1. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) bertujuan untuk mengadakan pembinaan bagi warga jemaat supaya warga jemaat mampu dan cakap secara aktif dan kreatif dalam pembangunan tubuh Kristus menunjang pertumbuhan jemaat secara sehat dan mandiri.
  2. Tujuan pembinaan supaya setiap anggota jemaat bertanggung jawab secara penuh dan berperan nyata dalam melaksanakan tugas pengutusannya, yaitu bersaksi, bersekutu dan melayani.
  3. Pelaksanaan pembinaan dilakukan dengan memperhatikan:
    1. Kebutuhan jemaat dan tantangan-tantangan dalam masyarakat.
    2. Usulan anggota, Majelis Jemaat, Pengurus Sektor, Badan Pengurus Wilayah atau Badan Pengurus Sinode.
    3. Hal-hal lain disesuaikan dengan keadaan jemaat masing-masing dan tetap berpegang pada firman Tuhan.

Pasal 12 : Sasaran

Sasaran pembinaan adalah anggota jemaat, simpatisan, majelis jemaat, pengurus sektor, pengurus wilayah, pengurus provinsi dan pengurus sinode.

Pasal 13 : Usaha

  1. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) dalam mencapai tujuannya akan berusaha:Menyelenggarakan pendidikan rohani dan umum yang didasarkan atas firman Allah (Alkitab).
    1. Menyelenggarakan pembinaan sebagaimana tercantum dalam pasal 11 dan 12 dengan penuh tanggung jawab sampai mencapai kedewasaan seperti yang dikehendaki Tuhan (Ef. 4:11-16).
    2. Menyelenggarakan pembinaan warga jemaat, misalnya: penataran, lokakarya, retreat, Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), dan pelatihan.
  2. Membentuk lembaga-lembaga, yayasan, dan usaha-usaha lain yang berada di bawah naungan Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI).
  3. Petunjuk pelaksanaan dan peraturannya akan dibuat tersendiri.

BAB V : KEANGGOTAAN

Pasal 14 : A n g g o t a

Anggota jemaat adalah anggota baptisan:

  1. Anggota yang telah diserahkan/dibaptis dalam lingkungan Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI)
  2. Pindahan (disertai surat Atestasi/surat pernyataan)
  3. Anggota Sidi
    1. Pengertian:
  • Anggota dari Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) yang mengaku percaya dan yang telah dibaptis.
  • Telah lahir baru, telah mengikuti pelajaran Iman dan Persekutuan GKSI dan menunjukkan kehidupan yang berserah kepada Tuhan.
  1. Hak:
  • Mengikuti dan menjalankan semua kegiatan yang telah diprogramkan.
  • Memperoleh bimbingan pertolongan dan perhatian dari Gereja.
  • Memperoleh pelayanan menyeluruh dari Gereja.
  1. Simpatisan / khusus
    1. Pengertian: orang yang belum menjadi anggota Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) namun sering beribadah di GKSI.
    2. Peran Serta:
  • Ikut secara bersama-sama mengadakan persekutuan dan ibadah.
  • Sebagai anggota panitia dalam jemaat kecuali sebagai majelis, pengurus (Ketua, Sekretaris, dan Bendahara).
  • Turut bersaksi dan memberitakan Injil dalam kata dan perbuatan.  
  • Ikut serta dalam seluruh kegiatan Gereja sesuai dengan karunia yang diberikan Tuhan
  1. Keanggotaan khusus adalah orang-orang yang dianggap penting dan berjasa atau berpotensi dalam mendukung keberadaan GKSI.

Pasal 15 : Perpindahan Anggota

  1. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) membuka perpindahan anggota dari jemaat ke jemaat dalam lingkungan Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), atau dalam lingkungan gereja-gereja dengan alasan pindah daerah, pelayanan gerejawi, atau alasan-alasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
  2. Perpindahan anggota jemaat antar sinode GKSI:
    1. Anggota jemaat yang ingin pindah ke jemaat lain, harus mengajukan surat permohonan tertulis kepada Majelis Jemaat.
    2. Majelis Jemaat memberikan Surat Keterangan Pindah (Atestasi) dengan tembusan ke Pengurus Sektor, Badan Pengurus Wilayah atau BPS.
    3. Bila berada dalam penggembalaan khusus, surat perpindahan dicantumkan keadaannya dan batas waktu penggembalaan.
    4. Penerimaan anggota jemaat diwartakan oleh majelis jemaat kepada anggota jemaat, nama dan alamatnya.
  3. Perpindahan anggota jemaat dari Gereja lain ke jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI):
    1. Menunjukkan Surat Atestasi dari gereja asal, atau surat keterangan lain yang menyatakan maksud dan tujuan pindah.
    2. Bila Surat Atestasi dari Gereja asal tidak ada, kepada yang bersangkutan dimohon mengajukan permintaan pindah ke Gereja asal dengan tembusan ke majelis jemaat di mana ia ingin pindah menjadi anggota.
    3. Bila dalam waktu 3 (tiga) bulan ternyata belum ada jawaban dari Gereja asal, maka majelis setempat mengirim surat kepada Gereja asal, memberitakan keinginan orang tersebut menjadi anggota jemaat, dengan dilampiri surat permohonan sebelumnya.
    4. Bila ternyata dalam waktu 3 (tiga) bulan tetap tidak ada jawaban, maka calon yang bersangkutan membuat surat keputusan kepindahannya kepada jemaat setempat di atas kertas bermeterai dengan mencantumkan bersedia menjadi anggota jemaat setempat.
    5. Majelis jemaat akan menulis surat kepada Gereja asal, tentang pernyataan calon dan tentang kepindahannya.
    6. Bila prosedur kepindahan tersebut di atas berjalan baik, majelis jemaat secara otomatis memprosesnya untuk mensahkan menjadi anggota jemaat.
    7. Penerimaan anggota jemaat baru harus diumumkan kepada anggota jemaat lainnya.
    8. Hak dan keanggotaannya sama dengan lainnya, sesuai Bab V Pasal 14 ayat 1.c
    9. Hal-hal lain disesuaikan dengan kondisi dan keadaan jemaat setempat dengan tetap berpedoman kepada AD/ART GKSI.

BAB VI : JABATAN GEREJAWI

Pasal 16 : Pejabat Gereja

  1. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) mengenal jabatan gerejawi sebagai berikut:
    1. Pendeta
    2. Guru Injil
    3. Penginjil (Evangelis) .
    4. Penatua
  1. Tugas, Syarat, dan Masa Jabatan:
    1. Pendeta

Tugas:

  • Melayani Kebaktian.
  • Melayani pemberitaan firman Tuhan.
  • Melayani sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus.
  • Menjadi Ketua Majelis Jemaat
  • Bersama tua-tua (para majelis) memperhatikan dan menjaga pengajaran dalam jemaat.
  • Menggembalakan dan memperhatikan pertumbuhan jemaat dalam pengertian yang seluas-luasnya.
  • Menjadi contoh dan teladan dalam segala hal bagi warga jemaat.

Wewenang:

  • Menyampaikan berkat Tuhan dengan penumpangan tangan dalam kebaktian.
  • Meneguhkan pejabat gerejawi dan melantik komisi-komisi, tim-tim khusus serta perintis sehubungan dengan perkembangan dan kondisi situasi jemaat lokal.
  • Melayani pemberkatan nikah gerejawi dan upacara gerejawi baik resmi maupun insidentil.
  • Melayani pemakaman, melawat para anggota, dan lain sebagainya.

Syarat:

  • Telah lahir baru dengan bukti buah pertobatan.
  • Lulus/berijazah sekolah Alkitab atau teologi dan yang disetujui oleh BPS-GKSI dan sesuai dengan paham dan pengajaran GKSI.
  • Mempunyai kemampuan dan karunia menggembalakan jemaat dan kemampuan melayani pekerjaan Tuhan dengan buah yang nyata.
  • Telah melalui masa persiapan minimal 2 tahun dan dibuktikan dengan rekomendasi jemaat setempat, kecuali ada pertimbangan khusus dari BPS-GKSI.
  • Mampu dan sanggup memelihara rahasia jabatan kependetaan.
  • Bersedia menaati AD/ART GKSI dan peraturan serta ketentuan yang berlaku dalam Sinode GKSI.
  • Bila yang bersangkutan belum/tidak berijazah teologi, maka kehidupan rohaninya harus memenuhi persyaratan dan sesuai dengan 1 Tim. 1: 1-8 dan Tit. 1: 6-8, dan telah melayani di GKSI minimal 5 (lima) tahun.
  • Mampu menggembalakan jemaat.
  • Lulus ujian premtoar yang dilaksanakan oleh BPS-GKSI.
  • Ditahbiskan/diteguhkan oleh BPS-GKSI.
  1. Guru Injil

Tugas:

  • Melayani Kebaktian
  • Melayani pemberitaan firman Tuhan
  • Melayani sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus atas persetujuan Pendeta
  • Menjadi Wakil Ketua Majelis Jemaat
  • Bersama tua-tua (para majelis) memperhatikan dan menjaga pengajaran dalam jemaat.
  • Menggembalakan dan memperhatikan pertumbuhan jemaat dalam pengertian yang seluas-luasnya.
  • Menjadi contoh dan teladan dalam segala hal bagi warga jemaat.

Wewenang:

  • Melakukan wewenang sama dengan pendeta dengan memperoleh mandat dari pendeta jemaat setempat atau dari Pra Sektor, Sektor, Pra BPW, BPW dan BPS-GKSI.
  • Ia berada di bawah pendeta jemaat

Syarat:

  • Lulus ujian Guru Injil yang diadakan oleh BPS-GKSI
  • Bila yang bersangkutan belum/tidak berijazah teologi, maka kehidupan rohaninya harus memenuhi persyaratan dan sesuai dengan 1 Tim 1:1-8 dan Tit 1:6-8, dan telah melayani di GKSI minimal 5 (lima) tahun.
  • Diteguhkan oleh BPS-GKSI
  1. Penginjil

Tugas:

  • Melayani Kebaktian
  • Melayani pemberitaan firman Tuhan
  • Menjadi Ketua atau anggota Majelis Jemaat
  • Bersama tua-tua (para majelis) memperhatikan dan menjaga pengajaran dalam jemaat.
  • Menggembalakan dan memperhatikan pertumbuhan jemaat dalam pengertian yang seluas-luasnya.
  • Menjadi contoh dan teladan dalam segala hal bagi warga jemaat.

Wewenang:

  • Menyampaikan berkat Tuhan dalam kebaktian
  • Melantik komisi-komisi, tim-tim khusus serta perintis sehubungan dengan perkembangan dan kondisi situasi jemaat lokal dengan persetujuan Pendeta
  • Melayani pemakaman, melawat para anggota, dan lain sebagainya.

Syarat:

  • Telah lahir baru dengan bukti buah pertobatan.
  • Lulus/berijazah sekolah Alkitab atau teologi dan yang disetujui oleh BPS-GKSI dan sesuai dengan paham dan pengajaran GKSI.
  • Mempunyai kemampuan dan karunia menggembalakan jemaat dan mampu melayani pekerjaan Tuhan dengan buah yang nyata
  • Mampu dan sanggup memelihara rahasia jabatan
  • Bersedia menaati AD/ART GKSI dan peraturan serta ketentuan yang berlaku dalam Sinode GKSI.
  • Mampu menggembalakan jemaat.
  1. Penatua 
  •  Nama: Mereka ini disebut para majelis
  • Jabatan: Di antara mereka dapat menjadi pengurus jemaat.
  • Tugas:
  1. Bersama Pendeta, Guru Injil dan Penginjil membina dan menggembalakan jemaat
  2. Bersama dengan Pendeta, Guru Injil dan Penginjil menjaga dan mengawasi pengajaran yang berkembang dalam jemaat
  3. Menjadi saksi dalam pemberitaan Injil, dalam kata dan perbuatan serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari
  4. Bersama Pendeta, Guru Injil, Penginjil dan seluruh majelis gereja membuat program dalam penggembalaan dan pertumbuhan gereja
  5. Segala sesuatu masalah dalam jemaat harus diselesaikan dalam terang firman Allah secara bersama-sama dalam suasana penuh persaudaraan, hasilnya harus mufakat sesuai dengan firman Tuhan

Syarat:

  • Sesuai dengan 1 Tim. 3: 1-3 dan Tit. 1: 5-6
  • Telah menjadi anggota aktif di jemaat tidak kurang dari 3 tahun, telah dibaptis atau sudah sidi
  • Bersedia melayani pekerjaan Tuhan dengan sukacita dan bertanggung jawab
  • Memahami dan mengerti AD/ART GKSI dan bersedia mentaatinya
  • Tidak ada hubungan dekat/kerabat dengan pejabat gereja lain (suami-istri, orang tua, mertua, menantu, saudara sekandung)
  • Memegang rahasia jabatan dan mengutamakan kebersamaan daripada pendapat dan keinginan pribadi
  • Berani berkorban waktu, dana, dan daya.

Masa Jabatan:

  • Satu periode jabatan adalah 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali (bila terpilih) untuk 3 tahun kedua (2 periode)
  • Seorang Penatua yang menjabat 2 periode berturut-turut harus turun untuk minimal 1 periode dan sesudah itu dapat diangkat kembali menjabat asal terpilih kembali

BAB VII : ORGANISASI

Pasal 17 : Pimpinan Gereja

  1. Dalam Wujud Setempat:
    1. Dipimpin oleh Majelis Jemaat (Ketua dan anggota-anggota Penatua)
    2. Ketua Majelis diketuai oleh pendeta/gembala jemaat dengan wakil ketua majelis dari jemaat (non-pendeta/non-gembala)
    3. Jumlah majelis disesuaikan dengan kondisi dan keadaan jemaat setempat
  1. Dalam Wujud Pra Sektor / Sektor:
    1. Dipimpin oleh Pengurus Pra Sektor / Sektor.
    2. Pengurus Pra Sektor / Sektor terdiri atas hamba-hamba Tuhan dalam Sektor yang bersangkutan.
    3. Pengurus Pra Sektor / Sektor ditetapkan oleh BPS-GKSI atas usulan BPW/BPP
    4. Untuk menjadi 1 sektor minimal harus ada 7 pos/jemaat, jika belum mencapai 7 pos/jemaat maka disebut pra sektor.
    5. Masa bakti pengurus sektor untuk 3 (tiga) tahun sama dengan masa bakti majelis jemaat
  2. Dalam Wujud Wilayah:
    1. Dipimpin oleh Badan Pengurus Wilayah (Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan anggota-anggota).
    2. Badan Pengurus Wilayah, atas persetujuan BPS-GKSI dapat mengangkat penasihat atau tokoh masyarakat bila memberi manfaat bagi pertumbuhan jemaat.
    3. Pengurus Wilayah dipilih oleh Sidang Badan Pengurus Wilayah dan utusan jemaat wilayah dengan persetujuan BPS-GKSI.
    4. Untuk menjadi 1 BPW minimal harus ada 7 sektor, jika belum mencapai 7 sektor maka disebut pra BPW.
    5. Masa bakti 3 (tiga) tahun sama dengan masa bakti majelis jemaat.
  3. Dalam Wujud Provinsi:
    1. Dipimpin oleh Badan Pengurus Provinsi dan diangkat oleh BPS GKSI.
    2. Keanggotaan BPP berjumlah 3 sampai 5 orang.
    3. Masa bakti 3 tahun dan dapat diangkat kembali.
    4. Untuk menjadi satu BPP minimal harus ada 2 BPW
  4. Dalam Wujud Sinode:
    1. Dipimpin oleh Badan Pengurus Sinode.
    2. Dipilih dan diangkat oleh Sidang Sinode Am GKSI dan mendapat persetujuan dari Dewan Pendiri Pemula
    3. Struktur dan susunan pengurus diatur dalam mekanisme peraturan khusus yang disetujui oleh anggota BPS
    4. Badan Pengurus Sinode dipilih dan diangkat oleh Ketua Umum terpilih dengan mempertimbangkan masukan dari Dewan Pendiri, BPP dan BPW.
    5. Anggota BPS minimal berusia 30 tahun dan maksimal 60 tahun
    6. Masa bakti 5 (lima) tahun.
    7. Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum sebaiknya diangkat dari orang yang megetahui tentang visi dan misi GKSI.
    8. Anggota jemaat minimal telah menjadi anggota aktif 7 (tujuh) tahun, kecuali ada pertimbangan khusus dari BPS-GKSI.
    9. Pendidikan tamatan SETIA atau Cabang SETIA kecuali ada pertimbangan khusus dari Ketua Umum terpilih
    10. BPS dapat mengangkat Mentor untuk setiap wilayah guna membantu BPS dalam koordinasi antara BPS dengan BPW/Pengurus Sektor.

Pasal 18 : Tugas Pimpinan Gereja

  1. Majelis jemaat (Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan anggota) bertugas:
  • Bersama-sama Pendeta, Guru Injil dan Penginjil melaksanakan tugas penggembalaan
  • Membuat program kerja masa periode dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab
  • Membuat laporan dan mengevaluasi pelaksanaan program
  • Memperhatikan dan menjaga pengajaran Gereja.
  • Mengelola harta milik jemaat.
  • Berperan serta dalam pelayanan pengutusan.
  • Melaksanakan keputusan-keputusan Pengurus Sektor, Badan Pengurus Wilayah dan Badan Pengurus Sinode.
  • Memelihara semangat kebersamaan dalam kekeluargaan dalam korps kemajelisan dengan tetap berpedoman kepada firman Allah.
  • Mengawasi pelaksanaan misi dan kesaksian anggota jemaat agar melaksanakan penginjilan dan pelayanan.
  • Mengelola harta milik jemaat
  1. Pengurus Sektor bertugas:
  • Mengawasi Hamba Tuhan dan Majelis Jemaat dalam sektor.
  • Mengawasi pembangunan fisik gereja dan sektor.
  • Menetapkan dan melaksanakan program kerja sektor.
  • Menyelesaikan masalah-masalah dalam sektor di bawah terang firman Allah.
  • Membina hubungan baik dengan pemerintah setempat.
  • Memberi laporan ke BPS-GKSI dengan tembusan ke BPW.
  1. Badan Pengurus Wilayah (BPW) bertugas:
  • Memimpin dan mengatur jemaat-jemaat yang terbagi dalam setiap sektor di wilayahnya.
  • Menetapkan dan melaksanakan program kerja wilayah sesuai periode yang disesuaikan dengan program kerja Sinode.
  • Menyusun laporan pertanggungjawaban.
  • Menyelenggarakan dan memimpin persidangan wilayah yang dihadiri juga oleh BPS-GKSI.
  • Mengelola harta milik wilayah dan mempertanggungjawabkan kepada BPS-GKSI dan jemaat-jemaat di wilayahnya.
  • Mengadakan penggembalaan khusus bagi pendeta jemaat di wilayah yang baru (yang tidak taat).
  • Wajib menjalin hubungan yang harmonis antara BPS dan Pengurus Sektor serta jemaat-jemaat di wilayahnya.
  • Mengelola harta milik wilayah dan mempertanggungjawabkan kepada BPS-GKSI dan jemaat-jemaat di wilayahnya.
  1. Badan Pengurus Sinode (BPS) bertugas:
  • Menetapkan garis besar dan tugas-tugas pokok pengajaran dan praktik berjemaat GKSI di seluruh Indonesia.
  • Menetapkan program kerja lima tahunan dan program kerja sepuluh tahunan.
  • Menerima dan mengevaluasi laporan pelaksanaan program kerja Pengurus Sektor, Badan Pengurus Wilayah, Mentor, Badan Pengurus Provinsi, dan keputusan-keputusan sidang sinode GKSI.
  • Membantu dan menyelesaikan permasalahan dalam BPW, Sektor dan jemaat setempat.
  • Menahbiskan atau meneguhkan pendeta dan guru Injil, Penginjil dan pejabat tingkat pusat seperti pengurus departemen-departemen BPS-GKSI.
  • Dalam kondisi dan situasi tertentu BPS dapat turun ke BPW, Sektor dan jemaat-jemaat.
  • Menerima jemaat baru dan meresmikannya.
  • Menetapkan rapat kerja GKSI.
  • Menetapkan sidang sinode dan rapat kerja nasional
  • Menetapkan Buku Putih (Visi & Misi, Goal, dan Ratio) serta ajaran-ajaran GKSI.
  • Menetapkan Buku Pedoman Iman dan Persekutuan GKSI serta liturgi.
  • Menetapkan Pedoman Katekisasi dan PA jemaat dan Surat-surat Keterangan Gereja.
  • Menetapkan biaya hidup pendeta, guru Injil dan Penginjil.
  • Mengangkat dan memberhentikan Pengurus Sektor dan Badan Pengurus Wilayah.
  • Menetapkan kebijaksanaan dalam mengelola harta milik (peraturan ini akan dibuat khusus)
  • BPS mendapat mandat tertinggi dari Sidang Sinode GKSI untuk memimpin GKSI.

Pasal 19 : Persidangan Gerejawi

  1. Persidangan Majelis Jemaat:
    1. Jenis
  • Persidangan Majelis Jemaat.
  • Persidangan Majelis Jemaat Terbuka.
  1. Persidangan Majelis Jemaat:
  • Merupakan sarana pengambilan keputusan majelis jemaat.
  • Peraturan dan tata tertib persidangan jemaat diatur oleh majelis setempat.
  1. Peserta:
  • Setiap anggota majelis
  • Untuk Persidangan Majelis Terbuka dapat dihadiri anggota jemaat.
  • Persidangan dianggap sah apabila 2/3 dari anggota majelis hadir.
  1. Pelaksanaan:
  • Persidangan sekurang-kurangnya sebulan sekali.
  • Rencana sidang diwartakan kepada anggota sekurang-kurangnya satu minggu sebelumnya.
  • Persidangan dipimpin oleh Ketua Majelis Jemaat atau Wakil Ketua Majelis Jemaat.
  • Setiap peserta persidangan mempunyai hak bicara.
  1. Persidangan Pengurus Sektor
    1. Peserta:
  • Hamba-hamba Tuhan dalam sektor
  1. Pelaksanaan:
  • Dilaksanakan sekali dalam sebulan.
  • Menyusun dan mengevaluasi program dan pelaksanaan pelayanan dalam sektor.
  1. Persidangan Badan Pengurus Wilayah
  2. Peserta:
  • Seluruh majelis jemaat dalam wilayah BPW
  • Seluruh pengurus sektor.
  • Seluruh Badan Pengurus Wilayah dengan satu dari komisi-komisi yang ada di bawah BPW.
  • Ketua Umum (Sinode) / wakil utusan dari BPS (minmal 2 orang).
  • Undangan lainnya untuk keperluan tertentu.
  1. Pelaksanaan:
  • Persidangan wilayah dilakukan setahun sekali sebelum rapat kerja tahunan GKSI.
  • Bahan persidangan dikirim ke jemaat-jemaat 1 (satu) bulan sebelum persidangan.
  • Dipimpin oleh Ketua (Wakil) atau Sekretaris wilayah.
  • Keputusan-keputusan diambil secara musyawarah.
  • Hak bicara diberikan kepada semua peserta.
  • Persidangan sah apabila 2/3 dari pengurus wilayah dan sektor/jemaat hadir.
  • Keputusan sah apabila 2/3 Badan Pengurus Wilayah dan utusan Sektor dan jemaat hadir.
  1. Persidangan Badan Pengurus Sinode (BPS)
    1. Rapat Badan Pengurus Harian Sinode:
  • Diadakan sebulan sekali.
  • Dihadiri oleh anggota Badan Pengurus Harian Sinode GKSI.
  1. Rapat Badan Pengurus Lengkap:
  • Dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan.
  • Dihadiri oleh Badan Pengurus lengkap.
  1. Rapat Kerja Nasional (Rakernas):
  • Dilaksanakan sekali dalam setahun.
  • Dihadiri Badan Pengurus lengkap sinode dan Yayasan-yayasan yang terkait, utusan dari BPW dan Sektor.
  1. Sidang Sinode Am:
  • Dilaksanakan sekali dalam lima tahun.
  • Dihadiri oleh seluruh BPS lengkap, utusan BPW, Sektor dan Jemaat-Jemaat.
  • Sidang Istimewa Sinode Am dapat diadakan berdasarkan permintaan dari sekurang-kurangnya ½ + 1 dari jumlag BPW/Pra BPW-GKSI yang ada.

BAB VIII : HAK, KEWAJIBAN DAN DISIPLIN

Pasal 20 : H a k

Setiap anggota Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), berhak:

  1. Menerima/mendapat penggembalaan dan pembinaan.
  2. Menyatakan pendapat.
  3. Menjadi pejabat-pejabat gerejawi.
  4. Naik banding untuk masalah khusus bagi dirinya.

Pasal 21 : Kewajiban

Setiap anggota Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), berkewajiban:

  1. Secara bersama atau sendiri-sendiri melaksanakan panggilan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus dalam bersaksi, bersekutu, dan melayani.
  2. Memberikan persembahan khusus dan persepuluhan secara teratur guna membiayai pelayanan dan pekerjaan Tuhan.
  3. Menerima, memahami, dan melaksanakan AD/ART GKSI.
  4. Mendukung dan mengambil bagian dalam pembiayaan program jemaat, sektor, wilayah, dan Sinode.
  5. Menjaga dan memelihara semangat kebersamaan dan persaudaraan yang rukun di antara sesama jemaat.
  6. Bersedia menyerahkan anak-anaknya kepada Tuhan dan baptisan bila tiba waktunya.
  7. Memberitakan Injil Yesus Kristus kepada segala makhluk.
  8. Menghormati dan menghargai pendeta / gembala jemaat dan pemimpin jemaat yang dipimpin oleh Tuhan.

Pasal 22 : Disiplin

  1. Bagi anggota yang melanggar Firman Tuhan dikenakan disiplin / siasat gereja.
  2. Rincian disiplin atau siasat gereja akan dibuat tersendiri

BAB IX : HARTA MILIK

Pasal 23 : Pengertian

Harta milik Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) pada hakikatnya adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada GKSI untuk dikelola guna mewujudkan Amanat Agung Tuhan Yesus, terdiri dari:

  1. Dalam tingkat jemaat, sektor, wilayah, dan Sinode: uang, barang-barang, dan surat-surat berharga.
  2. Dalam tingkat jemaat, sektor, wilayah, dan Sinode: barang-barang bergerak, yaitu: kendaraan, mesin-mesin, inventaris kantor, meja, kursi, mimbar, alat-alat musik, dan peralatan lainnya.
  3. Dalam tingkat jemaat, sektor, wilayah, dan Sinode: barang-barang tak bergerak: tanah, gedung, Gereja, pastori (rumah pendeta), balai pertemuan, kantor tata usaha, dan bangunan lainnya.
  4. Dalam Lembaga dan Yayasan untuk harta milik Lembaga dan Yayasan
  5. Seluruh harta milik GKSI tersebut harus dicatat dalam pembukuan yang rapi dan tertib.

Pasal 24 : Pemerolehan

Harta milik Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) diperoleh dari:

  1. Persembahan-persembahan syukur dan persepuluhan jemaat.
  2. Donatur, dermawan, dan para sponsor.
  3. Hibah dalam arti luas dan semua bentuk barang.
  4. Hasil usaha yang tidak bertentangan dengan firman Allah.

Pasal 25 : Pengelolaan

  1. Tugas dan pengelolaan harta milik GKSI berada pada:
  • Majelis jemaat untuk harta milik jemaat setempat.
  • Pengurus Sektor untuk harta milik sektor.
  • Badan Pengurus Wilayah untuk harta milik wilayah.
  • Lembaga dan Yayasan untuk harta milik Lembaga dan Yayasan
  • Badan Pengurus Sinode untuk harta milik Sinode.
  1. Tugas dan wewenang pengelolaan harta milik GKSI dilaksanakan dengan: mengadakan, memelihara, mengembangkan, dan mempergunakan.
  2. Tugas dan wewenang pengelolaan harta milik GKSI baik dari jemaat, sektor, wilayah, sinode bertanggung jawab kepada Badan Pengurus Sinode GKSI.
  3. Pengelolaan harta milik GKSI tidak diperuntukkan untuk menjadi jaminan bagi kebutuhan pribadi/hutang anggota lembaga GKSI.
  4. Laporan pengelolaan diperiksa oleh Badan Pengurus Sinode GKSI, dengan mengangkat tim verifikasi pada masa sidang atau langsung mengunjungi jemaat setempat di setiap sektor/wilayah/lembaga/yayasan.
  5. Hasil pemeriksaan tim Verifikasi harus diterima secara utuh dan bulat.

BAB X : PERUBAHAN AD DAN ART

Pasal 26 : Prosedur

  1. Perubahan AD/ART GKSI dapat dilakukan berdasarkan usulan dari 2/3 jumlan Badan Pengurus Wilayah dari seluruh Indonesia pada Sidang Sinode Am.
  2. Usul perubahan harus disertai alasan yang kuat dan jelas serta terinci.
  3. Usul perubahan harus sudah sampai kepada BPS selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelum dilangsungkannya sidang sinode.

Pasal 27 : Penutup

Setelah Anggaran Rumah Tangga disahkan, pemberlakuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga GKSI dilaksanakan secara serentak dan bersama-sama. Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ini diputuskan dan ditetapkan dalam Rapat Kerja Nasional Gereja Kristen Setia Indonesia (RAKERNAS - GKSI) di Cipayung – Bogor dari tanggal dua belas sampai empat belas Oktober dua ribu empat (12-14 Oktober 2004) dan telah mengalami penyempurnaan dalam Sidang Sinode Am Gereja Kristen Setia Indonesia III, di Cipayung – Bogor dari tanggal 23-27 Juli 2011.

Cipayung-Bogor, 26 Juli 2011

MAJELIS PERSIDANGAN SIDANG SINODE AM KE-3

GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA

 

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3

Pengunjung Online

We have 17 guests online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini32
mod_vvisit_counterKemarin31
mod_vvisit_counterMinggu ini206
mod_vvisit_counterMinggu lalu346
mod_vvisit_counterBulan ini626
mod_vvisit_counterBulan lalu1111
mod_vvisit_counterKeseluruhan8046171

We have: 16 guests online
IP anda: 54.198.41.76
 , 
Hari ini: Aug 18, 2018