Khotbah Minggu 13 Januari 2013

Khotbah Minggu 13 Januari 2013

Minggu I Setelah Epifani – Pembaptisan Tuhan Yesus

TEGUH DALAM BAPTISAN 

(Luke 3:15-17, 21-22)

Bacaan lainnya menurut Leksionari: Yes 43:1-7; Mzm 29; Kis 8:14-17

(Sebagian ayat-ayat dalam nats ini dapat dipakai sebagai nats pembimbing, berita anugerah dan petunjuk hidup baru)

----------------------------------------------------------------------------------------------

"Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Luk 3:16)

Pendahuluan

Minggu ini kita memperingati pembaptisan Tuhan Yesus di Sungai Yordan. Saat itu Yohanes Pembaptis masih terus berusaha untuk membawa umat Israel kembali ke jalan Allah dengan meneriakkan agar mereka bertobat dan tidak menjadi keturunan ular beludak. Pertanyaan di benak umat Yahudi pada saat itu adalah: apakah Yohanes ini sebagai Mesias yang dinanti-nantikan oleh umat itu? Mereka merindukan Mesias untuk dapat memimpin pembebasan dari penjajah bangsa Romawi.

Yohanes menyatakan sebagai tanda pertobatan mereka perlu dibaptis. Dalam tradisi Yahudi, seseorang penyembah berhala atau orang bukan Yahudi, sebelum resmi masuk sebagai pemeluk agama Yahudi terlebih dahulu dilakukan prosesi, seperti mempersembahkan korban, disunat dan kemudian dibaptis. Baptisan ini yang disebut sebagai baptisan proselit. Prosesi ini didahului oleh pembersihan tubuh termasuk potong kuku dan potong rambut dan kemudian setelah bajunya dibuka ditenggelamkan ke dalam air sebagai tanda baptisan. Ketika di dalam air sebelum ditenggelamkan, ia terlebih dahulu mengucapkan pengakuan iman Yahudi dihadapan wali baptisan. Kemudian dia diberi nasihat-nasihat, dinaikkan doa syukur serta Rabi mengikrarkan bahwa ia kembali menjadi bayi dan manusia baru, serta dosa-dosa lamanya dihapuskan. Pandangan ini juga berdasarkan Allah tidak mungkin menghukum dosa yang dilakukan sebelum lahir. Jadi bagi orang Yahudi, seseorang yang dibaptis dalam ritual Yahudi adalah bayi dan manusia baru.


Nats minggu ini tentang pembaptisan Tuhan Yesus memberi arahan kepada kita beberapa hal, sebagai berikut:

Pertama: Kerendahan hati

Pembaptisan Tuhan Yesus terjadi bukan karena Ia berasal dari penyembah berhala atau bukan keturunan Yahudi. Yesus dengan sukarela datang untuk ikut dibaptis oleh Yohanes karena itu merupakan penggenapan kehendak Allah dan Yesus memperlihatkan diriNya dengan rendah hati. Yesus melakukan itu sebelum masuk ke dalam tahapan pelayanan besarNya. Ini sangat penting diteladani agar kita tetap rendah hati di hadapan semua orang.

Kerendahan hati ini pula yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis, sebab ia tidak mengaku sebagai Mesias, melainkan diakuinya “Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak”. Sikap ini perlu kita teladani dengan tidak menempatkan pribadi kita di depan dan membuat Yesus justru sebagai backing. Pengakuan Yohanes bahwa membuka tali kasutNya pun tidak layak, merupakan cermin sikap bahwa sesungguhnya banyak di antara kita tidak layak untuk datang kepadaNya.

Tetapi Yesus adalah Allah kita yang Maha baik. Ia selalu dan terus menerus membuka pintu bagi kita untuk merendahkan diri kita dan datang kepadaNya untuk mohon pengampunan dan penebusan segala dosa-dosa yang kita lakukan. Melalui bilur-bilur darahNya, dosa kita akan dibersihkan dan kita akan menjadi seputih salju. 

Kedua: Baptisan pengganti sunat

Hal kedua Yesus perlu dibaptis adalah karena Yesus ingin memperlihatkan aturan sunat sebagai tanda perjanjian atau meterai persekutuan dengan Allah yang diberikan kepada Abraham sudah tidak berlaku lagi (Kej 17:1-12). Pada ayat 8 Yohanes mengatakan bahwa menjadi keturunan Abraham bukan lagi menjadi jaminan keselamatan bagi mereka. Orang Yahudi jelas terkejut mendengar ini. Selama ini mereka berfikir bahwa mereka adalah “bangsa” pilihan Allah sehingga secara otomatis akan menjadi bangsa yang dikasihi Allah. Tetapi Yohanes menekankan bahwa sebenarnya garis keturunan tidak merupakan jaminan, sebab setiap orang datang secara sendiri-sendiri kepada Allah dan membuat komitmen sendiri terhadap Allah.

Yohanes dan Tuhan Yesus ingin memperlihatkan bahwa baptisan merupakan tanda persekutuan yang baru dengan Allah untuk menjadi umat Allah, bahkan kedudukan baptisan lebih tinggi daripada sunat karena baptisan bagi orang percaya harus disertai dengan sunat hati (Kol 2:11-12; Rm 2:28; 1Kor 7:18). Baptisan merupakan tanda dan meterai janji Allah akan pengampunan dosa, yakni kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:3-5).

Baptisan berarti menjadi milik Kristus, karena kita semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus (Gal 3:27). Hidup kita merupakan milik Kristus dan semua arah dan tujuan hidup kita adalah untuk Kristus.

Ketiga: Baptisan sebagai perintah Tuhan Yesus

Tuhan Yesus sebelum naik ke sorga meninggalkan amanat penting yakni menjadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat 28:19). Dengan demikian baptisan adalah perintah untuk dilakukan bagi semua orang yang sudah percaya, bertobat dan bersedia dirinya dibaptis dalam nama Allah, Anak dan Roh Kudus.

Tetapi baptisan bukanlah jaminan, sebab jaminan adalah iman, iman yang membuahkan perbuatan. Hal ini tampak pada kisah Simon yang baru saja dibaptis, namun karena ia tidak taat dan ingin mempergunakan hak yang bukan miliknya akhirnya ditegur juga (Kis 8:9-24). Jadi hal yang penting dari baptisan (sama seperti sunat) adalah tuntutan hidup agar selalu tidak bercela, melainkan terus menerus berkenan kepada Tuhan.

Keempat: Baptisan percik sama dengan selam

Seringkali orang bertanya, baptisan mana yang benar: percik atau selam. Jawaban kita adalah keduanya adalah benar sepanjang semua dilakukan dengan kerendahan hati dan didukung oleh iman. Hal yang terpenting selain iman dalam baptisan adalah adanya “subjeck” yakni membaptis (Pendeta atau hamba Tuhan), dan adanya “object” yakni orang percaya yang akan dibaptis. Kedua, baptisan dilakukan dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Yang menyelamatkan bukan baptisannya, bukan pembaptisnya, melainkan iman yang menyertai pembatisan itu. Maka kalau baptisan dilakukan terhadap bayi atau anak kecil, maka iman orangtuanya yang menjadi dasar pembaptisan.

Bagi yang mempersoalkan bahwa pertobatan atau harus dimuridkan terlebih dahulu baru boleh dibaptis (selam), hal itu berarti mengingkari adanya anugerah Allah yang merupakan hak proregatif Allah. Allah juga berjanji bagi setiap orang percaya akan diselamatkan bersama dengan keluarganya (Kis 16:15-33). Perihal ayat 16 tentang baptisan air, roh dan api, maka baptisan air (percik atau selam) sering ditafsirkan sebagai unsur atau tanda pembaptisan itu yang dilakukan oleh manusia (pembaptis), namun baptisan Roh ditafsirkan bahwa Roh Kudus bekerja dalam pembatisan itu, dan baptisan Api merupakan symbol penyucian dan pengudusan atas proses baptisan itu. Kedua hal terakhir hanya dapat dilakukan oleh Tuhan Yesus dan Roh Kudus sendiri.

Oleh karena itu seyogianya tidak perlu dilakukan baptisan ulang terhadap seseorang apabila ia berpindah gereja. Penyangkalan baptisan percik sebagai bukan baptisan yang benar merupakan penyangkalan Allah yang bekerja secara Roh melalui hamba Tuhan dan iman orang tua dari anak tersebut pada waktu dibaptis. Hal ini dapat dikatagorikan sebagai dosa.

Penutup

Firman Tuhan kali ini memberi kita arahan hidup bagaimana kita harus merendahkan diri khususnya dalam menghadapi pembaptisan. Baptisan merupakan hal yang sejajar dengan sunat meski baptisan memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena adanya sunat hati. Baptisan juga merupakan perintah Tuhan Yesus bagi kita semua orang percaya, termasuk kepada semua anggota keluarga, meski mereka belum “mengerti dan percaya”. Tidak perlu dipermasalahkan baptisan percik atau selam, tetapi unsur yang terpenting adalah iman dan dilakukan dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Pernyataan bahwa baptisan seseorang tidak sah, hal itu dapat membawa kepada kesombongan rohani dan berakibat menjadi dosa.

Tuhan Yesus memberkati.

(Pdt. Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min – Wasekum Badan Pengurus Sinode GKSI. Catatan bagi hamba Tuhan yang akan menyampaikan Firman, akan lebih baik jika pada setiap bagian uraian diusahakan ada contoh/ilustrasi nyata dalam kehidupan dan juga ada selingan humor).

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3

Pengunjung Online

We have 24 guests online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini1126
mod_vvisit_counterKemarin3456
mod_vvisit_counterMinggu ini15622
mod_vvisit_counterMinggu lalu68440
mod_vvisit_counterBulan ini247515
mod_vvisit_counterBulan lalu294387
mod_vvisit_counterKeseluruhan1759876

We have: 7 guests, 4 bots online
IP anda: 54.226.173.169
 , 
Hari ini: Jul 22, 2014