Persembahan dalam Alkitab

BERBAGAI PERSEMBAHAN DALAM ALKITAB

Pemazmur bertanya: “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku?” ( Mzm 116: 12). Sebagai orang percaya yang telah menerima kehidupan, keselamatan, dan berkat-berkat-Nya, kita juga layak bertanya: bagaimana kubalas segala kebajikan (kebaikan) Tuhan yang diberikan-Nya kepadaku?

Mungkin kita mengatakan bahwa membalas kebaikan Tuhan yang penting adalah mensyukurinya. Atau berkata secara klise: Ya, dengan memberikan hidup kita kepada-Nya. Tentu itu baik, tapi jelas tidak cukup. Sebab pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana cara dan wujudnya? Apa yang dapat kita berikan atau persembahkan dari hidup kita kepada Dia sebagai balasan kebaikan-Nya?


Pemberian atau persembahan yang dimaksudkan tentu tidak hanya dalam bentuk uang yang lazim disebut sebagai uang persembahan yang diberikan tiap hari minggu, tetapi juga dalam segala wujud persembahan yang dapat kita berikan kepada-Nya sebagai ungkapan syukur atas kebaikan-Nya. Pertanyaannya, persembahan apa saja itu?

Alkitab mengenal berbagai bentuk persembahan. Ritual pemberian persembahan sendiri di dalam Alkitab diawali ketika Kain dan Habel mempersembahkan hasil pekerjaannya kepada Allah. Kain mempersembahkan sebagian hasil pertaniannya dan Habel mempersembahkan anak sulung hasil peternakannya. Alkitab menjelaskan, persembahan Habel diterima dan Allah mengindahkannya, sementara persembahan Kain tidak berkenan kepada Allah. Kain kemudian merasa benci kepada adiknya itu dan lalu membunuhnya (Kej 4: 5 - 8).

Kemudian kitab Kejadian menceritakan Nuh yang memberikan persembahan setelah selamat dari murka Allah dengan air bah-Nya (Kej 8: 20 – 22). Abraham setelah tiba di Kanaan langsung membangun mezbah dan memanggil nama Tuhan (Kej. 12: 8). Yakub juga memberikan persembahan kepada Tuhan setelah berpisah baik-baik dengan Laban mertuanya (Kej 31: 43-55). Semua pemberian ini dilakukan dalam ritual ketika hukum Taurat belum diberikan kepada umat Israel. Allah melalui Musa kemudian meneguhkan lebih spesifik berbagai jenis persembahan yang harus diberikan umat Israel sebagaimana diuraikan dalam kitab Imamat pasal 1 – 7. Persembahan yang dalam Alkitab juga dinyatakan sebagai korban dapat dikelompokkan sbb:

Pertama: Ola, yakni korban bakaran (Im 1: 1-17), sebagai lambang penderitaan sebagai hukuman karena dosa yang ditanggungkan atasnya, dengan makna membersihkan kehidupan orang yang memberi korban dalam ketaatan sebagai bau-bauan yang harum bagi Allah.

Kedua: Minkha, yakni korban sajian (Im 2:1-16; 5:11-12), sebagai rasa syukur yang diberikan demi kemauan baik sebagai pengganti keseluruhan dirinya.

Ketiga: Khatta’t, yakni korban penghapus dosa dan juga disebut sebagai ‘Asyam (korban penebus salah), yakni bilamana seseorang bersalah karena dianggap najis dari segi upacara agama atau berbuat dosa secara tidak sengaja (Im  4: 2, 13, 22, 27).

Keempat: Zevakh dan Selamin, yakni korban perdamaian atau korban keselamatan berupa pernyataan syukur atau sukarela kepada Allah (Im 7: 12; 22: 29; Bil 6: 14; 15: 3, 8).

Perjanjian Lama juga mengenal berbagai jenis persembahan lainnya, seperti persembahan sulung atau buah sulung (Kej 4:4; Im 2: 12; Neh 10: 35), persembahan unjukan (Im 6: 20; Bil 5: 15), dan persembahan persepuluhan berupa persembahan khusus yakni sepersepuluh dari penghasilan umat Israel. Persembahan atau korban yang disebutkan di atas, dinyatakan dengan pemberian hewan ternak (dari mulai lembu jantan hingga burung tekukur atau anak burung merpati yang tidak bercela), tepung, minyak, kemenyan, dan garam.

Persembahan dalam Perjanjian Baru

Berbeda dengan yang dijelaskan di atas, Perjanjian Baru menegaskan pemberian persembahan korban berupa ternak atau barang lainnya bukan lagi sebagai penebusan dosa dan kesalahan umat percaya. Sebagaimana dituliskan dalam kitab Ibrani, tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba betina dapat menghapus dosa (Ibr 10: 4). Penebusan dosa orang percaya dalam Perjanjian Baru hanya dilakukan dengan iman dengan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Melalui tubuh dan darah-Nya yang tersalib di Golgota hal itu telah menjadi penebusan atas dosa-dosa kita.

Namun, Perjanjian Baru tidak meniadakan persembahan sama sekali. Hanya persembahan dalam Perjanjian Baru tidak lagi sebagai korban, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah keselamatan yang telah diberikan Tuhan atas  penebusan dosa tersebut. Selayaknya kita mengucap syukur dan memberikan persembahan yang terbaik dari hidup kita atas penebusan dosa, keselamatan dan kehidupan kekal sebagaimana janji Tuhan kepada kita.

Selanjutnya persembahan di dalam kitab Perjanjian Baru dapat dikategorikan dalam lima bentuk, yakni sbb:

Pertama, persembahan hati dan mulut, yakni dengan menaikkan puji-pujian dan bibir yang memuliakan Allah dengan ucapan syukur (Ibr 13: 15; Mzm 28: 7; 30: 4; 51: 19). Kitab Efesus menuliskan, “dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati” (Ef  5: 19 – 20). Alkitab juga mengingatkan, dengan lidah kita memuji Tuhan (Yak 3: 5). Artinya, di segala tempat dan situasi kita tidak boleh menggunakan lidah dan mulut kita untuk hal-hal yang menyakitkan hati Allah dan orang lain, tetapi justru dipakai untuk memuliakan Dia.

Persembahan hati juga dinyatakan melalui kerinduan untuk selalu bersekutu setiap hari melalui doa, ibadah, dan membaca Alkitab. Bentuk persembahan hati lainnya diwujudkan melalui kerendahan hati dengan menerima perkataan atau perbuatan buruk yang dilakukan oleh pihak lain (Mat 6: 14-15; Luk 17: 4; Ef  4: 32). “Korban perasaan” ini biarlah menjadi persembahan yang harum bagi Allah dengan tetap melihat Allah punya rencana dan akan hak Allah untuk menegakkan keadilan bagi semua, tidak merespon dengan cepat marah dan membalas kejahatan dengan kejahatan. (Rm 12: 19; Ibr 10: 30).

Kedua, persembahan tubuh, yakni memelihara kekudusan hidup dengan menjauhkan diri dari perbuatan najis dan dosa yang tidak berkenan kepada Tuhan. Firman-Nya berkata, “Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Rm 12:1; Yak 1: 27b). Demikian pula dinyatakan pada bagian lain, betapa pentingnya kita memelihara tubuh. “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Juga dalam ayat lain, “tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu...” (1Kor 6: 13- 15, 19 - 20). Kita sebagai orang percaya diminta memelihara tubuh yang kudus sebab Allah kita itu kudus (Im 20: 26).

Ketiga, persembahan waktu dan tenaga, yakni dengan mengunjungi orang sakit, orang di penjara, dan memberi mereka yang haus dan tumpangan (Mat 25: 31 - 46). Persembahan waktu dan tenaga kita berikan juga bagi kemuliaan Tuhan dengan mengunjungi dan menyatakan kasih kepada mereka yang menderita dan membutuhkan. Kitab Yakobus menuliskan, “Ibadah yang murni dan tidak bercatat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka (Yak 1: 27a). Memberikan waktu dengan mengunjungi mereka, menghibur, dan berdoa bersama mereka yang sakit, teraniaya, atau menderita, maka hal itu sangat besar nilainya di hadapan Allah yang Maha Pengasih. Terlebih-lebih, meski tidak utama, apabila kita ikut meringankan beban kesedihan mereka dengan memberi bantuan (makanan atau kebutuhan hidup lainnya), sehingga dengan jalan itu kita telah memuliakan Allah.

Keempat, persembahan nyawa. Tuhan Yesus berkata bahwa inilah ungkapan kasih yang lebih besar dari umat percaya, yakni apabila seseorang yang mengorbankan nyawa untuk kemuliaan Kristus maupun untuk saudara-saudara kita (Mat 10: 39; Luk 14: 26; Yoh 15: 13; Kis 15: 26). Hal ini diperlihatkan dalam kisah Stefanus, martir pertama yang dibunuh oleh kaum Farisi dengan melemparinya dengan batu (Kis 7: 54 - 60). Pengorbanan nyawa untuk sesama dinyatakan dalam 1Yoh 3: 16, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Kesediaan berkorban dan menderita bagi orang lain dengan mengesampingkan kepentingan diri sendiri, itulah makna dari persembahan nyawa tersebut. Akan tetapi persembahan nyawa juga dapat dilihat dalam wujud apabila seseorang tetap setia kepada Tuhan dalam menanggung penderitaan penyakit yang mengancam nyawanya, yakni dengan tidak mengandalkan kekuatan-kekuatan (mistik) lain untuk kesembuhannya. Sebab tidak sedikit orang percaya karena putus asa atau tidak memahami rencana indah Tuhan baginya, akhirnya mengikuti cara-cara berhala untuk memperoleh kesembuhan.

Kelima, persembahan materi, yakni berupa persembahan uang atau barang. Kalau Perjanjian Lama mengajarkan pemberian berbagai korban dalam wujud “barang”, seperti ternak hewan, hasil pertanian, tepung, minyak, kemenyan, dan garam (Im 1-7, Ul. 12; 14; Mi. 6: 7), maka Perjanjian Baru mengajarkan untuk menyisihkan uang persembahan setiap minggu (kepada gereja) untuk dikelola sesuai dengan maksud Yesus dalam mendirikan dan memperluas kerajaan-Nya (1Kor 16: 1-2).

Penutup

Tidak seorang pun dapat membandingkan persembahan yang satu dengan yang lain. Kita tidak dapat mengatakan persembahan uang atau materi lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan persembahan mulut dengan memuji-muji dan memulikan Allah. Demikian pula halnya memberi waktu melalui kunjungan-kunjungan ke panti asuhan, rumah sakit, atau janda-janda, tidak berarti lebih berharga di mata Allah dibandingkan dengan persembahan puji-pujian di dalam ibadah kebaktian minggu. Semua bentuk persembahan ini saling melengkapi untuk menyenangkan hati Allah. Namun, dari keseluruhan persembahan tersebut ada syarat mutlak yang harus diberikan yakni persembahan tubuh yang kudus kepada Allah. Tidak ada manfaatnya apabila kita memberikan berbagai persembahan, namun tubuh kita dikuasai oleh kenajisan dan dosa.

Hanya yang jelas, persembahan yang berkenan kepada Allah adalah seperti persembahan Habel yakni karena iman. Allah mengetahui kebaikan hati dan iman Habel (Ibr 11: 4). Dengan didasari iman dan kebaikan hati untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan melalui berbagai jenis persembahan di atas, sangatlah penting dalam penerimaan Allah terhadap apa yang kita berikan sebagai balasan atas kebaikan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati.

(Oleh Pdt. Ramles M. Silalahi, D.Min – Wakil Sekretaris Umum BPS GKSI dan Dosen STT Injili Arastamar)

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3

Pengunjung Online

We have 102 guests online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini421
mod_vvisit_counterKemarin11853
mod_vvisit_counterMinggu ini53752
mod_vvisit_counterMinggu lalu25345
mod_vvisit_counterBulan ini150312
mod_vvisit_counterBulan lalu157106
mod_vvisit_counterKeseluruhan2305609

We have: 42 guests, 23 bots online
IP anda: 54.82.190.130
 , 
Hari ini: Oct 31, 2014