Khotbah Minggu 10 Juni 2012

Khotbah Minggu 10 Juni 2012

Minggu Kedua Setelah Pentakosta 

DIBERKATI KARENA KERENDAHAN HATI

Mazmur 37 : 11

“… pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat  ketenangan”

Matius 11:29

PENDAHULUAN

Kata “rendah hati” tidaklah asing bagi kita. Seringkali orang menyampaikan bahwa seorang Kristen haruslah hidup dalam kerendahan hati. Namun apakah sesungguhnya arti “rendah hati”? Dan bagaimanakah kita dapat hidup di dalamnya? Lalu apakah berkat bagi seorang yang hidup dalam kerendahan hati? Pertanyaan-pertanyaan ini menolong kita untuk memahami arti “rendah hati” sesuai dengan kebenaran firman Tuhan dalam teks ini dan memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati.


Pertama: Arti “rendah hati”

Istilah “rendah hati” berasal dari kata Ibrani ‘anav yang memiliki  beberapa pengertian yakni, meek, in mind (gentle) yang berarti lemah lembut dan circumtances needy; humble, poor, yang berarti dalam keadaan rendah. Lemah lembut tidak berarti mudah menyerah tetapi menunjukan kerelaan hati untuk dibentuk oleh Tuhan, dengan cara tetap tinggal dalam ketaatan pada-Nya di segala situasi. Pembentukan-Nya bagi kita dapat melalui  kebenaran Firman Tuhan yang direfleksikan dalam kehidupan kita, tetapi dapat pula melalui situasi atau pengalaman dalam hidup kita dan juga melalui keberadaan orang-orang di sekitar kita, yang diijinkan-Nya membentuk kepribadian kita. Pengertian  kedua tidak jauh berbeda dengan pengertian di atas, yakni dalam keadaan rendah berarti menanggalkan keberadaan diri kita  dan menempatkan kehendak-Nya sebagai yang utama dalam hidup kita. Rendah hati tidak berarti mudah direndahkan, dan juga tidak sama dengan pengertian rendah diri, karena istilah ini menunjukan ketaatan mutlak pada  kehendak Allah. Filipi 2:5-11 menunjukan teladan kerendahan hati yang telah dilakukan Kristus karena ketaatan-Nya pada kehendak Bapa.

Kedua: Menjadi pribadi yang rendah hati

Pemazmur yakni Raja Daud dikenal memiliki hubungan intim dengan  Tuhan, “percaya” kepada Tuhan dan “berserah” kepada-Nya (ayat 3,5). Hal ini nampak dalam segala situasi yang dihadapinya, termasuk bagaimana sikapnya terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Ketika Raja Daud harus menghadapi situasi sulit, yakni masalah bangsa-bangsa yang menyerang umat Allah, dan juga masalah Absalom, anaknya yang memberontak terhadap dia  serta Saul yang mengejar untuk membunuhnya. Ia tetap percaya dan berserah dan hidup dalam ketaatan, inilah kerendahan hati. Namun demikian, Alkitab pun menyampaikan kegagalan Raja Daud untuk menaati Allah yang kemudian diakuinya di hadapan Tuhan dalam Mazmur 51. Ini menunjukan sebuah proses untuk menjadi pribadi yang rendah hati.

Contoh pribadi yang rendah hati (dalam pengertian lemah lembut), ialah Musa (Bilangan 12:3). Kerendahan hati Musa terletak dalam kepercayaan-Nya pada Allah, sehingga ia dapat menjadi seorang pemimpin yang dipakai Tuhan luar biasa. Ia tidak mementingkan diri-Nya sendiri atau mencari pujian manusia, tetapi Ia menaati Allah dan memprioritaskan-Nya lebih dari segala sesuatu.

Menjadi pribadi yang memiliki kerendahan hati sejati, hanya dimungkinkan dengan cara belajar dari Kristus sendiri (Matius 11:29). Kerendahan hati bukan sikap yang “terpaksa” atau “dipaksakan”, karena sikap ini merupakan buah dari hubungan yang intim dengan Tuhan. Kata “belajarlah” daripada-Ku.. juga menunjukkan sebuah proses yang terjadi setelah seorang datang kepada Kristus secara pribadi dalam kelahiran baru/pertobatan. Semakin hari kita semakin belajar untuk menjadi rendah hati, dalam berbagai cara pembentukan-Nya.

Ketiga: Berkat bagi orang yang rendah hati

Ayat 11 menyampaikan dua berkat yang diberikan kepada orang yang rendah hati, yakni: akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang melimpah-limpah. Dua berkat ini berbicara tentang janji Allah kepada Abraham dan keturunannya, yakni memiliki tanah perjanjian dan hidup dalam “shalom” yakni keadaan baik secara utuh. Ayat ini sesungguhnya menunjukkan kepada kita bahwa pribadi yang rendah hati adalah keturunan Abraham secara rohani yang berhak menerima janji berkat. Matius 5:5 pun menyampaikan hal yang serupa tentang orang yang rendah hati (dalam arti lemah lembut), bahwa ia akan memiliki bumi.

Secara praktis berkat yang diberikan Tuhan bagi orang yang rendah hati adalah penggenapan semua janji Allah bagi umat-Nya (di dalam Alkitab terdapat sekitar 8000 janji), khususnya menerima damai sejahtera atau ketenangan secara batiniah dan lahiriah. “Shalom” atau damai sejahtera adalah kebutuhan manusia yang paling utama. Jika hal ini telah diterima, maka sesungguhnya ia menjadi pribadi yang senantiasa bergembira karena Tuhan.

APLIKASI

Tuhan menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati.  Bukan saja mengasihi tetapi juga menyediakan berkat bagi orang yang rendah hati. Hanya Kristuslah teladan yang sempurna dalam kerendahan hati. Marilah kita terus belajar, belajr dan belajar dari pada-Nya  agar kita senantiasa hidup dalam kerendahan hati.

(Pdt. Nuh Ruku, M.Th – Anggota Badan Pertimbangan BPS GKSI)

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3

Pengunjung Online

We have 227 guests online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini990
mod_vvisit_counterKemarin6105
mod_vvisit_counterMinggu ini33407
mod_vvisit_counterMinggu lalu40574
mod_vvisit_counterBulan ini126731
mod_vvisit_counterBulan lalu91209
mod_vvisit_counterKeseluruhan1088281

We have: 14 guests, 104 bots online
IP anda: 54.81.80.46
 , 
Hari ini: Apr 24, 2014