PEMBINAAN GURU PAK

GURU PAK DAN LIMA TALENTA

DALAM PEMBANGUNAN KARAKTER ANAK

Pendahuluan

Sudah hampir disepakati bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh tiga faktor utama: keluarga, sekolah, dan lingkungan pergaulan sehari-hari. Meski disetujui faktor keluarga lebih dominan dalam menentukan karakter tersebut, namun kedua faktor lainnya juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Boleh saja pendidikan anak di rumah sudah dilakukan dengan baik dan benar, namun apabila pengaruh buruk di luar (sekolah dan pergaulan) cukup kuat yang melampaui dasar-dasar yang diberikan oleh keluarga, maka perkembangan karakter anak dapat mengarah kepada hal yang buruk. Pendidikan di keluarga sendiri sangat dipengaruhi oleh faktor pengajaran, iman, dan keteladanan orangtua dalam ketaatan kepada Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari. Hal lainnya yang tak kalah penting yakni penyerahan diri orang tua dan anak-anak yang diikuti dengan doa yang terus menerus kepada Pengendali Hidup kita, Tuhan Yesus Kristus.

 

Kemajuan teknologi dan sistim informasi yang demikian pesat membuat pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan karakter anak. Informasi telah dapat disajikan dengan cukup bebas melalui media elektronik, internet, dan media komunikasi lainnya. Dengan demikian, konsumsi informasi tidak lagi mengenal batasan usia. Hal ini masih ditambah lagi dengan keterbatasan waktu yang dimiliki oleh orang tua dalam memberikan arah bimbingan dan “pengawasan” kepada anak-anaknya. Nilai-nilai yang sudah mulai longgar membuat hubungan suami-istri juga dengan mudah menjadi rapuh dan bahkan pecah, sehingga membawa konsekuensi yang lebih buruk lagi kepada anak-anak.

Dalam lingkungan sekolah, permasalahan yang dihadapi juga tidak ringan. Dukungan pemerintah terhadap pendidikan agama (Kristen) yang masih minim, sehingga banyak sekolah umum di kota-kota besar di Jawa yang tidak memiliki guru PAK dan bahkan tidak memberikan pelajaran agama Kristen, menambah rawannya perkembangan anak tersebut yang dapat membawa mereka jauh dari hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan kita Yesus Kristus.

Alkitab sendiri banyak berbicara tentang kesalahan orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Kisah Elia dalam mendidik anaknya sehingga mereka melakukan hal-hal yang mendukakan Tuhan. Mereka mengambil daging persembahan yang bukan haknya, kadang dengan mengancam bahkan menodai wanita-wanita penjaga rumah ibadah tersebut. Eli juga tidak tegas dalam membimbing anak-anaknya sehingga akibatnya seluruh keluarga Eli harus punah dari hadapan Allah (1Sam. 2).

Demikian juga Daud, sebagai buah dari ketidaktaatannya kepada Allah melalui perbuatan dengan Batsyeba (2Sam. 11), harga yang harus dibayar Daud cukup mahal, yakni dengan berbagai persoalan: anaknya harus mati, memperkosa adik tiri, dan saling merebut tahta dengan upaya saling membunuh. Itu adalah contoh bagaimana pendidikan dan perbuatan orangtua terhadap anak sangat menentukan bagaimana anak itu di hadapan Tuhan.

Talenta 

Firman Tuhan menyebutkan bahwa setiap orang diberi Talenta: ada yang 5, 2, dan 1 Talenta (Mat. 25: 14-30). Semua diberikan kepada kita orang percaya agar dipergunakan dan dilipatgandakan dalam buah-buah pekerjaan dan pelayanan kita sehari-hari. Di dalam firman tersebut diumpamakan yang diberi satu Talenta pun tidak memberi buah dan akibatnya dihukum. Makna dari semua itu adalah bahwa apa pun Telanta yang diberikan kepada kita sebagaimana adanya saat ini, maka harus kita manfaatkan untuk menghasilkan buah-buah untuk kemuliaan Kristus. Saya tidak membedakan secara prinsip Talenta dengan karunia (rohani), sebab pengertian keduanya bisa dianggap sama, meski sebagian orang ada yang membedakannya, atau mengatakan talenta adalah bagian dari karunia rohani atau sebaliknya.

Namun sayangnya, kita tidak diberitahu jumlah dan ”kualitas” Talenta yang Tuhan berikan dan kita miliki saat ini. Dan lebih sulit lagi apabila kita tidak tahu apa jenis Talenta yang Tuhan berikan untuk kita pakai dalam menghasilkan buah yang dikehendaki-Nya tersebut. Tetapi saya percaya, melalui doa dan perenungan terus menerus yang sudah dipanggil menjadi Guru PAK di sekolah-sekolah, maka Talenta atau karunia rohani itu adalah mengajar, pengetahuan dan hikmat, menasehati atau memberi dorongan (Rm.12: 7-8; 1Kor.12: 8, 28-29; Ef. 4: 11) . Tinggal masalahnya adalah apakah kita sudah memakai Talenta itu dengan baik dan benar.

Salah satu cara untuk mengetahui apakah kita memakainya dengan baik dan benar adalah dengan cara kita mencoba melakukan segala sesuatu dengan maksimal, dengan pengertian memakai semua waktu, tenaga, pikiran dan doa sesuai dengan apa yang telah diberikan (kesempatan) oleh Tuhan kepada kita untuk melayani melalui sekolah tempat kita mengajar anak-anak. Pengertian maksimal di sini adalah apakah kita sudah mempersiapkan diri dengan baik ketika mau mengajar di depan kelas, menepati jadwal mengajar, memperhatikan murid dengan seksama perkembangannya, memberi bimbingan dan konseling apabila diketahui nilai-nilai kelasnya anjlok (termasuk mata pelajaran lain, dsb). Dengan demikian kita melakukan secara  penuh tanggungjawab dan memahami bahwa semua yang kita lakukan itu benar seolah-olah adalah untuk Tuhan (Kol. 3: 23; 1Kor. 10: 31).

Jadi, tanggungjawab yang kita terima bukanlah sekedar mengajar di depan kelas atas materi yang sesuai dengan kurikulum saja, tetapi juga melihat anak-anak didik tersebut sebagai jiwa yang dititipkan oleh Tuhan kepada kita untuk dibimbing dan digembalakan menjadi anak-anak-Nya yang taat dan memuliakan Allah di dalam kehidupannya. Hendaklah tidak terlalu berhitung-hitung dengan ”honor” yang diberikan oleh Sekolah maupun bantuan dari luar, sebab prinsip demikian tidak dikehendaki oleh Allah yang menuntut tanggungjawab. Ini bisa diibaratkan sama seperti yang saya alami dahulu dalam dunia pekerjaan sekuler, ketika ”anak-buah” saya hitung-hitungan dalam kinerjanya, maka biasanya kita para Pimpinan juga ”hitung-hitungan” pada mereka: misalnya, kenaikan gajinya menjadi kecil, bahkan bila perlu dipecat saat berbuat kesalahan yang cukup berat. Tetapi kalau kinerja kita baik dalam mengajar dan melayani, pasti membuahkan sesuatu hasil yang menggembirakan secara rohani maupun jasmani. Tidak selalu jangka pendek, tetapi pasti dalam jangka panjang buah itu akan dipetik berlimpah hasilnya. Oleh karena itu, saya juga perlu sampaikan, bahwa kehidupan kita adalah merupakan hasil kerja kita sendiri, dengan tetap melandaskan pada berkat Tuhan bagi yang setia kepada-Nya.

Guru dan Anak

Dalam kerangka itu, saya ingin menyampaikan bahwa tanggungjawab guru, khususnya guru PAK, sangat besar di dalam membawa anak-anak didik di sekolah menjadi anak-anak Tuhan. Kalau seandainya mereka ada yang memiliki masalah di rumah, di dalam hubungan dengan orangtua, hubungan saudara, atau kesulitan lainnya, sementara mereka di sekolah tidak mendapatkan perhatian dan bahkan hanya tambahan tugas-tugas yang demikian besar lagi tanpa ada dialog, maka beban akan semakin berat yang dihadapi anak-anak ini. Dalam situasi itulah biasanya godaan datang dari teman-temannya yang sudah terbiasa melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, maka dengan mudah mereka akan terbawa atau terjerumus. Hal ini bisa dimulai dengan ngobrol-ngobrol tentang hal-hal buruk, melihat-lihat gambar porno di HP, menggoda orang, sampai kepada perbuatan-perbuatan yang bisa cenderung ke arah kriminal.

Guru PAK dalam hal ini harus bisa menjadi ”sahabat” bagi mereka, bisa mendengar keluhan-keluhan berat yang mereka rasakan, memahami persoalan mereka dengan sikap lebih terbuka, meneguhkan dan memotivasi, sampai kepada bertindak sebagai ”orangtua angkat” mereka. Kekosongan yang mereka hadapi dalam hubungan dengan orangtua dapat diisi oleh Guru PAK, sehingga mereka masih melihat pengharapan yang kuat, terlebih apabila dalam peneguhan itu Guru PAK berhasil dalam menawarkan Tuhan Yesus sebagai jawaban persoalan mereka. Sebagaimana saya pernah baca dari buku seorang ahli, tujuan kita sebagai pengajar (agama) adalah membawa anak-anak menjadi lebih dewasa dan membebaskan mereka dari ketergantungan terhadap diri sendiri, tetapi tergantung kepada Allah. Biarlah Allah melalui Roh Kudus yang bekerja di dalam hati mereka untuk membuat ketergantungan itu. Seperti firman Tuhan mengatakan, ”nasehatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu (1Tes. 5: 11).Yang penting dari Guru adalah memberikan hati, empati, komitmen, dan waktu bagi mereka, dan itulah sebenarnya Talenta yang saya maksudkan untuk bisa menghasilkan buah.

Kesimpulan

Panggilan Tuhan kepada Guru PAK merupakan tugas yang sangat penting. Tugas ini dapat dilakoni dengan cara mudah, dengan menganggap anak-didik hanyalah sebagai objek saja untuk mendapatkan penghasilan, dan bukan anak-anak Tuhan yang dititipkan kepada kita. Hal ini diumpakan sebagaimana orang yang menerima satu Talenta dan kemudian menguburnya. Mari kita mulai dengan berfikir bahwa Tuhan memberi kita yang paling optimal yakni lima Talenta, memberi kita dengan penuh dan yang terbaik, maka dari situ kita akan mencari bentuk Talenta-Talenta tersebut dan meningkatkan kualitasnya dengan memberi hati dan pikiran kita kepada anak-anak yang diserahkan oleh Tuhan kepada kita semua. Buah-buah yang dihasilkan semakin banyak yang membawa kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus

Tuhan Yesus Memberkati pelayanan kita.

Oleh: Pdt. Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min - Wasekum BPS GKSI

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3

Pengunjung Online

We have 68 guests online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini73
mod_vvisit_counterKemarin19
mod_vvisit_counterMinggu ini73
mod_vvisit_counterMinggu lalu166
mod_vvisit_counterBulan ini601
mod_vvisit_counterBulan lalu671
mod_vvisit_counterKeseluruhan8042909

We have: 52 guests online
IP anda: 54.80.115.140
 , 
Hari ini: Apr 22, 2018